Tiga Gunung
Dua gunung yang pertama ; Akhsyabain julukannya.
Seperti sebutan, itu pula wujudnya ; dua yang kokoh, pejal, dan keras. Bagai mempelai pengantin, keduanya menjulang tinggi dengan gagah dilatari pelaminan langit. Cahaya mataheri pun melipir ketika bayang - bayangnya jatuh di hamparan pasir. Dinding gunung - gunung ini cadas berona merah, menyesak ke arah Thaif dan Makkah. Angin gurun yang sanggup menerbangkan kerikil, seakan tak mampu mengusiknya walau secuil.
Yang satu bernama Abu Qubais, sedang pasangannya Qa'aiqa'an.
Adalah malaikat penjaga kedua gunung ini suatu hari digamit Jibri as ; menyapa seorang lelaki yang berjalan tertatih di Qarn Al-Manazil. Bekas darah yang merahnya mulai menua dan lengket masih tampak di kakinya. Ada yang bening berbinar sendu di sudut matanya. Wajah itu tetap cahaya meski awan lelah dan kabut duka memayungi air mukanya. Jelas, beban berat menggenangi jiwanya, tapi kita nanti akan tahu, yang tumpah ruah tetaplah cinta.
"Ya Rasulullah saw," begitu kelak 'Aisyah bertanya sembari bersandar mesra di bahu beliau dan mentap matanya penuh cinta, "pernahkah kaualami hari yang lebih berat daripada ketika di Uhud ?" Maka lelaki itu, Muhammad saw bercerita, seperti diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim berikut ini.
"Aku mendatangi para pemimpin Thaif ; 'Abdu Yalail ibn 'Amr, Mas'ud ibn 'Amr, dan Hubaib ibn 'Amr Ats-Tsaqafy untuk mengajak mereka kepada Allah. Salah seorang di antara mereka berkata, "Tirai ka'bah tersobek jika sampai Allah mengutus seorang Rasul", yang berikutnya berucap, "Apakah Tuhanmu tak punya orang lain untuk diutus ?", dan yang terakhir berujar, "Aku tak mau bicara denganmu. Jika kau benar - benar Rasul, aku khawatir mendustakanmu. Jika kau bukan Rasul, maka tak layak bagiku bicara dengan seorang pendusta !"
Lalu setelah tiga hari aku menyusur tiap sudut Thaif, mengetuk berbagai pintu, dan menawarkan Islam pada siapapun yang kutemui, mereka pun beramai - ramai mendustakan, mengusir, dan menyakitiku.
Aku pun pergi dengan kegundahan dalam hati, hingga tiba di Qarn Ats-Tsa'alib. Ketika kuangkat kepalaku, maka tampaklah Jibril as memanggilku dengan suara yang memenuhi ufuk. "Sesungguhnya", kata Jibril as, "Rabbmu telah mengetahui apa yang dikatakan dan diperbuat kaummu terhadapmu. Maka Dia mengutus malaikat penjaga gunung ini untuk kuperintahkan sesukamu."
Lalu malaikat penjaga gunung menimpali, "Ya Rasulullah saw, ya Nabiyyallah, ya Habiballah, perintahkanlah, maka aku akan membalikkan gunung Akhsyabain ini agar menimpa dan menghancurkan mereka yang telah ingkar, mendustakan, menista, mengusir, dan menyakitimu."
"Tidak", jawabku, "Sungguh, aku ingin agar diriku diutus sebagai pembawa rahmat, bukan penyebab adzab. Bahkan, aku ingin agar dari sulbi - sulbi mereka, dari rahim - rahim mereka, kelak Allah akan keluarkan anak keturunan yang mengesakan-Nya dan tak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun".
Mari sejenak kembali ke pertanyaan ibunda kita, sang Khumaira. Apa yang berat bagi kekasih Allah ini melebihi hari Uhud ketika 3 cincin rantai besi menancap di pelipisnya, perangkap tajam mencocor lututnya, dikabarkan terbunuh hingga cerai-berai pengikutnya, kehilangan paman tercinta, dan 70 sahabat setianya menjadi syuhada ?
Hidupnya yang penuh lika-liku dan luka tapi tanpa leka itu, terlalu panjang untuk memeriksa satu demi satu jawabannya. Tapi kita tahu, yang berat baginya bukan lemparan batu, bukan kalau dia ruku' lalu lehernya dijerat, bukan juga saat dia bersujud kemudian kepalanya diinjak dan punggungnya dituangi kotoran. Yang berat baginya bukan caci fitnah dan cela makian, bukan tuduhan gila, penyihir atau dukun, bukan juga tiga tahun kefakiran dalam pemboikotan.
Yang berat bagi kekasih Allah itu adalah, kala wewenang membinasakan orang-orang yang menganiaya dirinya digenggamkan penuh-penuh. Yang berat bagi kesayangan Ar-Rahman itu adalah, ketika dalam gemuruh sakit lahir dan batin, peluang pelampiasan dibentangkan baginya.
Terujilah jiwanya, terbuktilah cintanya, dan tertampaklah kemuliaannya. Dia menolak dengan harapan yang memuncak atas kebaikan yang masih kelak. Dia sebenarnya diizinkan, dihalalkan, dan diridhai untuk berkata, "Ya", lalu gemuruh runtuh Gunung Akhsyabain yang menimpa musuh "menghibur" hatinya.
Tapi keputusannya adalah "Tidak !" Dan harapannya adalah "Jika pun mereka ingkar, semoga keturunannya yang kelak akan beriman". Keduanya telah menjadi bukti bagi namanya, Muhammad, yang terpuji di langit dan bumi.
Ialah hujjah, bahwa dia ingin diutus sebagai pembawa kasih dan bukan penyebab adzab, Allah bahkan menyatakan dirinyalah rahmat bagi semesta alam. Bahwa dia datang dengan kesedihan menanggung derita umatnya, amat menginginkan kebaikan bagi mereka, serta lembut dan welas-asih. Bahwa dia berada di atas akhlak yang agung, baik dalam akhlak pada Rabbnya, akhlak pada dirinya, juga pada sahabat maupun musuhnya. Jernih sekali nabi menyebut hari terberat, ketika Jibril as datang menawarkan pembinasaan musuh. Itulah saat kemuliaan dakwah memenangi batin yang gemuruh.
Adakah nilai hidup seindah pribadi ini, yang terpuji di langit dan bumi ?
Sementara itu, gunung yang ketiga berasal dari Yunani.
Disatu bagian dunia orang mati, begitu ditulis oleh Homerus dalam The Iliad dan Odyssey, menjulang juga sebuah gunung yang tinggi. di lerengnya yang terjal dan curam, berbatu dan penuh kerikil tajam, berliku dan kelam, mudah longsor dan seram; seorang lelaki berotot kuat, berkulit liat, bermandi keringat, dengan mata membeliak dan kaki terhentak-hentak menghela sebuah batu raksasa, mendorongnya ke puncak yang runcing menusuk langit.
Ini entah sudah kali keberapa, dan tiap kali dia menyelesaikan kerjanya, batu itu menggelinding kembali ke bawah dengan mudah. Lalu dia harus memulai dari awal; menyungkah batu itu menyusur tebing menuju puncak, terluka dan pedih, lelah dan perih, getir dan sedih; untuk kemudian sang batu bergegas turun, memintanya mengulang kembali kutukannya yang abadi.
Lelaki itu, Sisyphus namanya.
Selama berabad-abad dalam peradaban barat, nama dan kisah ini menjadi lambang perjalanan hidup manusia yang nirhasil dan tanpa makna. Lelah menyiksa sekaligus tak berguna. Harapan yang setapak-tapak sampai puncak lalu sekejap sirna. Sia-sia sekaligus mengerikan.
Tapi Albert Camus dalam essaynya yang terbit di Perancis pada tahun 1942, Le Mythe de Sisyphe, menuliskan renungan yang membuat kita berkernyit. "Kita harus membayangkan," ujar Camus, "bahwa Sisyphus berbahagia". Lahirlah dari tangan Camus kemudian "absurdisme", aliran filsafat dengan inti fahaman berupa sia-sianya pencarian makna, kesatuan, dan kejelasan dalam menghadapi dunia yang tak terfahami, yang tanpa Tuhan dan kekekalan.
Kebahagiaan, bagi Camus, ada di dalam diri, berasal dari ketenangan, ketidakmelekatan, kebebasan dari segalanya dan penerimaan akan yang absurd. Dunia dan penghidupan kita hari ini, kata Camus, sering lebih absurd dari apa yang dialami dan yang dikerjakan Sisyphus. Dan seperti juga Sisyphus, kita tak punya pilihan. Maka, pungkas Camus, jalani saja. Dan berbahagialah.
Tidakkah Camus terlalu memaksakan fahaman ini, mengajak kita untuk pura-pura berbahagia ?
Camus mungkin terlewat untuk membaca sebuah anggitan lain tentang kisah Sisyphus. Dalam cerita ini, sang gunung merasa menjadi yang paling tersiksa. Maka iapun berkata, "Betapa bahagia menjadi Sisyphus yang berjalan-jalan antara kaki dan puncakku. Betapa bahagia menjadi batu yang punya Sisyphus untuk membantunya naik agar menggelinding dengan ceria. Bagaimana dengan aku yang diinjak-injak nista oleh mereka berdua ?"
Tetapi sang batu juga merasa menjadi yang paling merana. "Betapa bahagia menjadi Sisyphus yang tubuhnya terlatih, kian kuat dan perkasa tiap kali mendorongku ke puncak sana. Betapa bahagia menjadi gunung yang berdiam anggun dalam rehatnya saat kami kepayahan mendakinya. Bagaimana dengan diriku yang dibawa ke atas hanya untuk terbanting kesakitan setiap waktu ?"
Demikian pula Sisyphus merasa menjadi yang paling nestapa. "Betapa bahagia menjadi batu yang tiap saat harus kuhela, dan tiap jatuh harus kusangga. Betapa bahagia menjadi gunung yang besar dan perkasa, kakinya di bumi dan puncaknya di angkasa. Bagaimana dengan diriku yang tanpa jeda harus mendorong batu dan mendaki lerengnya ?"
Bahagia adalah kata paling menyihir dalam hidup manusia. Jiwa merinduinya. Akal mengharapinya. Raga mengejarnya. Tapi kebahagiaan adalah goda yang tega. Ia bayangan yang melipir jika difikir, lari jika dicari, tak tentu jika diburu, melesat jika ditangkap, menghilang jika dihadang. Di nanar mata yang tak menjumpa bahagia; insan lain tampak lebih cerah. Di denging telinga yang tak menyimak bahagia; insan lain terdengar lebih ceria. Di gerisik hati yang tak merasa bahagia; insan lain berkilau bercahaya.
( Dikutip dari buku "Lapis-lapis Keberkahan" karya Salim A. Fillah )
0 komentar:
Posting Komentar