Assalamualaikum.. Wr. Wb
Selamat pagi.. Salam Asuhan
Kefarmasian
STUDY REVIEW = CILOSTAZOL sebagai antiplatet (March 3rd,2016)
Cilostazol sebagai antiplatelet
yang mempunyai efikasi menghambat agregasi platelet sebelum koagulasi pada fase
homeostatis, ternyata mempunyai efek vasodilatasi arteri khususnya di perifer.
Mekanismenya dengan menghambat/inhibisi
fosfodiesterase-3 di endothelium sehingga siklik adenosine monofosfat (c-AMP) tidak
cepat terdegradasi, akibatnya terjadi vasodilatasi dan penghambatan agregasi
platelet. Sehingga cilostazol dapat:
1. Memperbaki
aliran darah
2. Memperbaiki
sel endothelium
3. Menghambat
penebalansel otot polos
Oleh Karena itu CILOSTAZOL diklaim
efektif untuk pengobatan:
- Gejala Penyakit Arteri Perifer (PAD) pada Pasien dengan Diabetes Melitus Resiko Tinggi.
- Mencegah Stroke berulang pada Penyakit Arteri Perifer (PAD) Intracranial Arterial Stenosis (Penyumbatan Arteri intracranial otak).
Oleh karena efikasi dikhususkan
pada Penyakit Arteri Perifer (PAD) maka cilostazol harus diperhatikan dan KONTRAINDIKASI
pada pasien gagal jantung kongestif (CHF). Walaupun cilostazol memiliki efek
vasodilatasi tetapi tidak ada study yang
mengklaim tentang keamanan cilostazol pada pasien CHF.
CILOSTAZOL mempunyai efek
vasodilatasi perifer maka disetujui untuk kasus
intermittent claudication (gangguan berjalan karena adanya penyempitan
pada kaki). Tentunya cilostazol mempunyai POTENSI interaksi dengan obat2 yang
juga mempunyai efek vasodilatasi seperti (patut diperhatikan dalam kombinasi) :
- Nitrat (glyceril trinitrat, nitrogliserin, isosorbid dinitrat, isosorbid mononitrat)
- Hydralazine
- Golongan Metil Xanthin (Caffein, Aminophyllin, Theophyllin, Pentoxifillin dll)
- Milrinon
- Sildenafil dll
CILOSTAZOL dimetabolisme di hati,
oleh karena itu harus diperhatikan pada pasien dengan gangguan hati. CIlostazol
dimetabolisme dengan enzim CYP3A4 and CYP2C19, dua isoenzymes cytochrome
P450, Tentunya cilostazol mempunyai POTENSI interaksi dengan obat2
yang juga dimetabolime di hati seperti (patut diperhatikan dalam kombinasi) :
- Obat yang menghambat atau menginduksi CYP3A4, seperti itraconazole, Eritromisin, ketoconazole,amiodaron, diltiazem dll.
- Inhibitor poten pada CYP2C19, seperti cimetidin, Golongan PPI (Omeprazole dll) dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi serum metabolit aktif CILOSTAZOL sehingga dapat meninggkatkan efek vasodilatasi.
Efek Samping : Alergi, sakit
kepala, mual muntah, pusing
Dosis : Karena Waktu Paruh
Cilostazol = 11 – 12 jam, maka cilostazol diminum 2 x sehari
Sediaan : Tablet 50 mg, 100 mg
Demikianlah penjabaran dari kami,
Semoga resume ini bermanfaat bagi kita semua
Jazakumullah Khairan Kasiraan
Wassalamualaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh
0 komentar:
Posting Komentar